Wednesday, February 23, 2011

At Tawadhu

Ta’rif Tawadhu:
Yaitu sikap merendahkan dan menghinakan diri kepada yang berhak yaitu ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi, juga kepada orang-orang yang ALLAH SWT perintahkan kita untuk bersikap tawadhu’ pada mereka seperti kepada para Nabi SAW, para Imam dan qiyadah, para hakim, para ulama, dan orangtua.
Adapun bersikap tawadhu’ pada semua makhluq maka hukum asalnya bahwa perbuatan tersebut terpuji jika diniatkan untuk mencari ridha ALLAH SWT. Sabda Nabi SAW: “Tidak akan pernah berkurang harta karena bersedekah, dan tidaklah seorang hamba bersikap pemaaf kecuali akan ditambah kemuliannya oleh ALLAH SWT, dan tidaklah seorang hamba bersikap tawadhu’ kecuali akan diangkat derajatnya oleh ALLAH SWT.”  Sedangkan bersikap tawadhu’ pada ahli dunia dan orang zhalim maka hal tersebut bertentangan dengan sikap ‘izzah.
Tawadhu’ lebih umum dari khusyu’, karena ia mencakup pada sesama hamba dan pada Sang Pemilik hamba, sedangkan khusyu’ tidak boleh dilakukan kecuali hanya pada Pemilik hamba saja.
Berkata al-Fudhail rahimahullah: “Tawadhu’ adalah sikap menerima kebenaran dan melaksanakannya dan menerima kebenaran tersebut dari siapapun datangnya.”
Berkata ‘Atha: “Yaitu sikap menerima kebenaran dari manapun datangnya, sikap ‘izzah adalah bagian dari tawadhu’ juga, tetapi sikap sombong bukan bagian dari tawadhu’, barangsiapa mencari-cari kemungkinan bersikap sombong dari tawadhu’ sama seperti seorang yang mencoba mencari air di dalam api.”
Berkata seorang ‘alim saat menasihati putranya: “Wahai ananda, hiasilah ketinggianmu dengan sikap tawadhu’, sikap kemuliaan dengan agama dan ambillah sifat pemaaf dari ALLAH SWT dengan bersikap pemaaf juga pada semua manusia.”
Seorang yang mutawadhi’ yaitu seorang yang tumbuh dalam dirinya kerendahan dan ketinggian semata-mata karena keimanannya pada ALLAH SWT, yang sama sekali tidak terpengaruh oleh kekuatan, harga diri, harta dan potensi yang dimilikinya atau orang lain. Sebab kemuliaan dan kehinaannya semata-mata karena pengetahuannya yang luas tentang hubungan dirinya dan seluruh makhluq kepada ALLAH yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, ..dan DIA adalah Maha Berkuasa di atas semua hamba-NYA..  Sehingga ia merasa tidak akan mampu keluar dari hukuman dan kekuasaan ALLAH SWT dan kerajaan-NYA .. Wahai semua Jin dan manusia seandainya kalian mampu menembus penjuru-penjuru langit dan bumi, maka tembuslah, tetapi ketahuilah bahwa kalian tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan ALLAH ..
Sehingga ia sangat menyadari kebutuhannya dan kefakirannya terhadap ALLAH SWT dan pengampunan-NYA saat ia membaca ..Sesungguhnya ALLAH-lah yang Maha Kaya dan kalian semua adalah para fuqara..  Dan iapun menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari ALLAH SWT ..Dan tidaklah semua nikmat yang sampai kepadamu kecuali dari ALLAH .. Sehingga karena semua pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya sikap sombong dan merasa lebih, karena telah meresapnya keyakinan yang menghunjam ke dalam hatinya, sehingga Pemiliknya memujinya ..Dan hamba-hamba ar-Rahman itu ialah yang berjalan dimuka bumi ini dengan merendahkan diri, dan jika ia ditegur oleh orang-orang jahil maka ia mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan..  Berkata al-Hasan: Seorang ulama adalah lemah lembut, berkata Muhammad bin al-Hanafiyyah: Para sahabat nabi SAW itu adalah orang yang jika dicaci diri mereka maka mereka menjawab dengan lemah lembut, sehingga berfirman ALLAH SWT memuji sikap mereka ..mereka itu bersikap lemah lembut pada sesama mu’min dan bersikap tegas kepada orang-orang kafir..  Sehingga berkata ‘Atha: Mereka kepada orang-orang mu’min adalah seperti seorang ayah pada anak-anak mereka, tetapi kepada orang-orang kafir seperti seperti harimau pada mangsanya.
Berkata Ibnu Mas’ud ra: Bersabda Nabi SAW: Tidak akan masuk jannah orang yang dalam hatinya ada seberat biji sawi dari kesombongan.  Juga telah berkata SAW: Maukah kalian aku kabarkan tentang ahli neraka? Yaitu orang-orang yang pencela, keras hati dan sombong.  Dan telah bersabda Nabi SAW: Maukah aku kabarkan pada kalian orang-orang yang neraka diharamkan atas mereka? Yaitu mereka yang lembut perkataannya, halus budinya dan mudah dalam segala hal.
Jenis-Jenis Tawadhu’
Hendaknya seorang da’i bersikap tawadhu’ terhadap kebenaran, merendahkan diri padanya dan tunduk padanya dan tidak berusaha mendebat pada kebenaran tersebut walaupun tidak ia sukai, karena SAW telah menafsirkan kesombongan dalam sabdanya sbb: Sombong itu ialah menutupi kebenaran dan menipu manusia . Oleh karenanya jika ada sebuah ketentuan syariat yang shahih tapi terasa berat atau tidak masuk akal olehmu, maka ketahuilah bahwa semua itu karena kelemahan dan kebodohanmu semata-mata, karena ilmu ALLAH SWT itu teramat luas dan tiada berbatas, sementara kemampuan dan kapasitas manusia demikian kecil dan sempit takkan mampu menyelami semua hikmah-NYA, maka jangan sekali-kali kamu bersikap takabbur dan menolaknya.
1. Bersikap tawadhu’ pada agama: Yaitu menerima semua apa yang bersumber dari ALLAH SWT dan Rasul-NYA, dengan tunduk dan pasrah sebulat-bulatnya.
a. Tidak menolak sedikitpun baik akalnya, perasaannya, maupun perbuatannya.
b. Tidak meragukan dalil agama tersebut dengan sangkaan bahwa dalil tersebut tidak masuk akal, kurang, atau tidak sempurna; melainkan sebaliknya ia langsung merasa mungkin kefahamannya, akalnya atau pemikirannya yang kurang atau belum memiliki ilmu tentang hal tersebut.
c. Tidak mencari-cari jalan lain yang berbeda dengan dalil tersebut baik dalam batinnya, lisannya atau perbuatannya, karena hal tersebut merupakan sifat orang munafiq.
2. Ridha terhadap apa yang diridhai oleh kebenaran, maka jadilah ia sebagai budak ALLAH SWT dan saudara bagi orang muslim dan tidaklah bermusuhan dengan kebenaran itu setitikpun.
3. Segera menjadikan kebenaran itu bagian dari dirinya, baik dalam pemikirannya maupun perbuatannya.
Seorang yang Tawadhu’ adalah Sangat Mengenal Rabb-nya
Sebagaimana perkataan Abubakar ra: Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan seorang muslim, karena semakin kecil seorang muslim di mata kalian maka ia semakin besar dimata ALLAH.
Seorang yang tawadhu’ sangat mengenal Rabb-nya maka saat ia berkumpul dengan orang-orang yang lemah, atau miskin atau hina maka ia pun ingat firman Tuhannya: Maka bersabarlah kalian bersama-sama orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan petang hari karena menginginkan keridhoan-NYA dan janganlah kalian palingkan mata kalian dari mereka karena menginginkan perhiasan dunia, dan janganlah kalian taati orang-orang yang hati mereka telah KAMI kunci dari mengingat KAMI dan mereka selalu mengikuti hawa nafsu dan adalah kehidupan mereka itu melampuai batas.
Demikian banyak perintah Rabbnya untuk senantiasa bersikap tawadhu’ di antaranya: Dan janganlah kalian berjalan di atas bumi ini dengan menyombongkan diri, karena kalian tidak akan mampu menembus bumi atau menjulang setinggi gunung. Dalam ayat yang lain: Negeri akhirat itu KAMI jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan kesombongan di muka bumi dan kerusakan . Dan derajat tawadhu’ tersebut yaitu:
1. Tidak mendahului sesama muslim, dalam berjalan, berbicara, berpendapat dsb melainkan selalu berada di belakangnya kecuali jika berada di depan tersebut memang dibutuhkan oleh Islam dan kaum muslimin.
2. Agar ia menyampaikan ilmunya dalam majlis jika tidak ada yang lebih mengetahui, tetapi jika ada yang lebih mengetahui maka hendaklah ia mempersilakan orang tersebut dan ia diam mendengarkan kecuali jika ada kesalahan.
3. Hendaklah ia menemui orang lain dengan gembira dan lemah lembut dan menanyakan keperluannya jika membutuhkan tanpa merasa lebih dari orang tersebut.
4. Hendaklah sering duduk-duduk diantara orang faqir, miskin, sakit dan mendoakan mereka.
5. Hendaklah makan dan minum tanpa berlebihan, demikian pula dalam berpakaian.

No comments:

Post a Comment